WELCOME TO MIX CREAM LATTE - Meii Chan

Jumat, 26 Desember 2014

First Love

Cinta pertama. Cinta pertama adalah secuil kisah yang pernah terjadi di hidupku. Ada senang, sedih, kecewa—semua bercampur menjadi satu. Hal yang paling kuingat adalah kisah manisku dengan dirinya, satu-satunya orang yang berhasil membuatku merasakan cinta dan membuka mataku tentang betapa indahnya perasaan itu. Dia jugalah yang mengajarkanku untuk melihat cinta dari sisi yang positif. Bagaimana bisa? Aku akan menceritakannya untuk kalian. Tujuh tahun yang lalu. Namaku adalah Sita. Aku berusia 14 tahun. Sudah empat bulan ini aku duduk di kelas tiga sebuah Sekolah Menengah Pertama —yang berarti merupakan tahun terakhirku berada di sini. Julukanku adalah ‘Siswa Pendiam’. Tapi menurutku aku tidak pantas menyandang julukan itu karena sebenarnya aku bukanlah siswa pendiam seperti yang teman-temanku katakan. Aku bisa menjadi cerewet, bahkan sangat cerewet bila berada di lingkungan yang membuatku nyaman. Dan sedikit sifat jahilku ini juga tak bisa kuhilangkan. Aku mempunyai dua sahabat baik. Namanya adalah Ellin dan Nina. Hampir setiap hari aku bersama mereka —selain hari Minggu, tentunya. Sehingga tidak aneh jika ada yang memanggil kami ‘Tiga Sekawan’. Ada pula yang memanggil kami sebagai ‘Trio’. Apapun panggilannya, tak masalah bagi kami asalkan bukan dijadikan bahan ejekan. Di hari kesepuluh bulan November yang bertepatan dengan hari Jumat ini, aku berangkat ke sekolah seperti biasa —menjadi siswa yang paling awal datang. Kalau bukan teringat hari ini adalah jadwal piketku, aku pasti akan berangkat lebih siang, apalagi didukung dengan hujan yang turun sedari tadi. Sayang semua itu hanya keinginan yang nyaris tak pernah terwujud karena kami —aku, Ellin dan Nina bukanlah siswa yang gemar berangkat siang. Lebih baik kepagian daripada kesiangan. Benar tidak? “Pagi.” Sebuah suara mengagetkanku dan memaksaku menghentikan sejenak kegiatanku menyapu lantai kelas. Aku mendongakkan kepala. Terlihat jelas seseorang tengah berdiri di depan pintu sembari tersenyum ramah padaku. Mataku terlalu bagus untuk tidak mengenali siapa dirinya. Walaupun sudah satu bulan dia tidak masuk sekolah karena sakit, namun dia tetaplah bagian dari kelas ini. “Pagi,” balasku pada orang itu. Dan tak lupa kubalas pula senyumnya itu. “Kamu sudah sembuh?” tanyaku kemudian. “Iya,” jawab Dion —nama siswa itu. “Kelamaan libur, jadi bosan di rumah,” lanjutnya. Aku hanya bisa terkekeh kecil mendengar jawabannya. Di mana-mana jika siswa mendengar kata ‘libur’, pasti akan sangat senang. Tapi dia justru merasa bosan karena terlalu lama libur. “Tinggal tidur aja kalau bosan,” celetukku asal. “Nah, justru itu yang bikin bosan. Badan rasanya sakit semua kalau cuma dipakai tidur.” “Iya kah?” tanyaku meragukan ucapannya. “Tentu. Buktinya aku. Bisa saja hari ini aku masih di rumah, tidur. Tapi nyatanya aku berangkat, kan?” belanya. Aku kembali tersenyum. Temanku yang satu ini ternyata lucu juga. “Iya, percaya, kok.” “Kamu… Kalau tidak salah namamu Sita, kan?” “Hemm…” Aku mengiyakan pertanyaannya. “Apakah aku perlu menghapus nama Dion dari papan absensi?” tanyaku, menunjuk papan absensi di samping papan tulis. Dion mengikuti arah pandangku. Di papan absensi itu, nama Dion masih tertulis jelas dengan keterangan sakit. Dan tanpa pikir panjang, ia menghapus sendiri namanya, membuat papan absensi itu kehilangan penghuni setianya. “Sudah kuhapus,” katanya dengan cengiran lebar di bibirnya. Hari demi hari berlalu sejak untuk pertama kalinya aku mengobrol dengan Dion. Hubunganku dengan Dion semakin dekat. Aku yang notabene adalah siswa pemalu dan enggan berbicara dengan siswa laki-laki, mulai terbiasa dengannya. Awalnya aku menganggap hal ini sebagai hal biasa. Tidak aneh, kan, jika seorang siswa dekat dengan teman sekelasnya? Namun lama-kelamaan aku merasakan sesuatu yang berbeda. Entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa aku bisa tertawa lepas di hadapannya. Aku mulai menyukainya. Ini adalah pengalaman pertamaku menyukai seseorang. Jujur. Aku bingung harus berbuat apa. Aku berusaha bersikap seperti yang biasa kulakukan. Tapi aku tidak bisa menghilangkan debaran hatiku. Terkadang lidahku kelu karena terlalu gugup berhadapan dengannya. “Kamu mau ke mana?” Pertanyaan Dion menghentikan langkahku yang nyaris melewati pintu kelas. Aku menoleh, menatapnya sejenak. “Ke kantin,” jawabku jujur. Ya, kantin. Aku memang berencana ke sana. Bel istirahat belum lama berbunyi, jadi wajar jika aku pergi ke tempat yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman itu. “Aku boleh nitip sesuatu, nggak?” “Apa?” “Hmm… Air mineral. Boleh, kan?” “Baik.” Aku menyanggupi permintaan Dion kemudian berlalu pergi meninggalkannya dan kembali bergabung dengan kedua sahabatku. Hanya air mineral, kan? Tak masalah buatku. Aku justru merasa senang karena Dion tidak merasa sungkan padaku. Walau hanya ucapan ‘terima kasih’ yang aku dapatkan, tapi tak apa. Bisa dekat dengan Dion saja, sudah sangat membuatku senang. Namun layaknya gadis yang sedang jatuh cinta, aku ingin menunjukkan perasaan spesialku padanya. Setidaknya agar ia tahu bahwa ada seorang gadis yang menyukainya. Dan sedikit harapanku, dia akan membalas perasaanku. Sedikit saja. Aku tidak pernah berharap terlalu besar. Aku mulai memikirkan cara untuk menunjukkan perasaanku padanya. Mulai dari sering duduk di dekatnya ketika istirahat, sampai membantunya mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Ia lebih suka Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris karena menurutnya aneh mempelajari bahasa yang tidak ia gunakan sehari-hari. Jadi aku membantunya. “Ini artinya apa?” tanya Dion ketika aku sedang memperhatikan dirinya dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Ia terlihat sangat tersiksa membaca deretan huruf yang tertera pada kertas-kertas tersebut. Tanpa sadar, kusunggingkan senyum kecil untuknya. Aku tahu persis apa yang sedang dilakukannya sekarang. Menghafal. Ya, kegiatan itu dilakukan hampir seluruh siswa di kelas, termasuk diriku. Tidak ada ulangan. Kuis pun juga tak ada. Hanya saja akan diadakan pertunjukan drama dalam beberapa hari ke depan. Bukan pertunjukan besar. Terdapat delapan kelompok yang masing-masing terdiri dari lima siswa. Tiap kelompok tersebut diharuskan untuk menampilkan sebuah pertunjukan drama dalam Bahasa Inggris. Kenapa harus menggunakan Bahasa Inggris? Itu karena pertunjukan drama ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran yang dibenci Dion. Tebakanku, Dion pasti tersiksa melakukannya. “Mana? Biar aku terjemahkan,” tawarku. “Ini.” Dion memberikan seluruh kertasnya padaku. Aku membacanya sekilas. Cukup rumit juga. Sepertinya aku membutuhkan bantuan Mr. Dic alias Kamus untuk menerjemahkannya. “Tunggu, ya. Akan kutuliskan untukmu.” — “Cieee… Sita lagi pedekate sama Dion,” celetuk salah satu teman sekelasku yang sukses menimbulkan semburat merah di pipiku. Buru-buru kualihkan pandanganku agar tidak ada yang melihatnya. Untung, Dion sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jika sampai Dion menyadarinya, bisa tambah malu diriku. Kulirik Dion. Cukup lama kami terdiam. Aku tidak berani memulai percakapan dengannya. Lidahku terasa kelu. Ocehan temanku membuatku kini salah tingkah. Namun, berbeda dengan Dion. Ia masih asyik menulis. Bahkan raut wajahnya tak berubah. Dion seolah tak peduli dengan keadaan sekitar, dan juga keberadaanku. Sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak aku duduk di kursi yang membuatku dapat melihat dengan jelas tulisan Dion. Diam. Diam. Diam. Hanya itu yang kami lakukan. Pikiranku sendiri tengah berkecamuk. Apa aku terlalu jelas menunjukkan perasaanku? Ini sudah kesekian kalinya aku mendengar celetukan seperti itu yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasku. Apa itu berarti Dion juga menyadari perasaanku padanya? Apa dia marah? Aku harus senang atau sedih? “Setelah lulus, aku akan ke Jakarta.” Kalimat itu memaksaku untuk kembali pada kesadaranku. Sontak aku menoleh. “Kamu bilang apa?” tanyaku, meminta Dion mengulang perkataannya. Aku harap yang kudengar itu salah. “Aku akan melanjutkan sekolah di Jakarta,” ucap Dion lebih tegas. “Kenapa?” “Orangtuaku yang minta.” Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku setelah mendengar jawaban terakhir Dion. Orangtua, ya? Aku mungkin juga akan melakukannya jika orangtuaku yang memintanya karena aku tahu semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Keinginan tiap orangtua tak sama. Orangtuaku menginginkanku tetap tinggal di kota ini. Sementara orangtua Dion menginginkan dirinya ke Jakarta. “Semoga sukses.” Hanya dua kata itu yang mampu kuucapkan. Tidak ada yang berubah dengan hubungan antara aku dan Dion. Aku masih tetap sama, berusaha untuk selalu dekat dengan dirinya. Bagaimana dengan Dion? Entah hanya perasaanku saja atau memang perasaanku yang terlalu sensitif, aku merasakan sedikit perubahan pada sikapnya. Dion semakin baik padaku. Dan sikap itu tidak pernah ditunjukkannya pada teman-temanku yang lain. Bolehkah aku merasa bahagia? “Kau harus mengatakannya,” ujar Ellin dan Nina berbarengan ketika kami pulang bersama. Kompak sekali mereka? Reaksi mereka selalu sama jika sudah menyangkut aku dan Dion. Dan anehnya kenapa mereka juga harus memberikan saran yang sama? Apa mereka pikir mudah melakukannya? “Aku takut,” jawabku lirih. Mengungkapkan perasaan pada seseorang yang sudah lama disukai, aku juga ingin melakukannya. Tapi kurasa aku tak akan pernah melakukannya. Aku tahu dengan pasti resiko menyukai seseorang. Kalau bukan ditolak, ya pasti diterima. Aku tidak pernah takut untuk ditolak. Yang aku takutkan adalah perubahan yang akan terjadi pada hubunganku dan Dion. “Takut? Apa yang kau takutkan? Sita yang ceria, cerewet dan mudah bergaul, aku tahu kau tidak seperti itu dulu. Dan juga menjadi juara kelas, itu semua karena dia, kan?” Ellin menumpahkan semua unek-uneknya. Aku seperti mendapat tamparan hebat ketika mendengarnya. Perkataan Ellin benar. Tak ada yang salah sedikitpun. Semua itu memang kulakukan karena Dion. Entahlah. Aku seperti mendapat kekuatan untuk melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan. “Bukankah kau bilang ketika mencintai, hanya ada dua hal yang mungkin terjadi. Ditolak atau diterima. Benar, kan?” tambahnya. Aku tersenyum miris. Mencintai, ditolak, dan diterima, aku ingat pernah mengatakannya. Cinta seperti sebuah jalan yang kau tempuh. Sementara persimpangan diibaratkan sebagai pengakuan cinta. Belok ke kanan berarti kita diterima. Dan belok ke kiri berarti ditolak. Ketika sampai di persimpangan, mau tak mau kita harus mengambil salah satu jalan itu. Kanan atau kiri. Ditolak atau diterima. Mataku menerawang. “Kau benar. Tapi kau lupa sesuatu. Kau dapat berhenti kapanpun kau mau. Bahkan sebelum kau sampai di persimpangan.” — To: ondimy@gmaiil.com Subject: Hai… Hai Dion… Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan sekolahmu? Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari kelulusan sekolah. Apakah enak tinggal di Jakarta? Bukankah Jakarta itu panas dan macet. Iya, kan? Dion.. Ada yang ingin aku katakan padamu. Kuharap kamu tidak akan marah setelah membacanya. Dan aku juga berharap hal ini tidak akan merusak persahabatan kita. Kamu harus janji padaku. - Aku menyukaimu - Perasaan itu pernah aku rasakan padamu. Kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil memberiku semangat dalam segala hal yang kulakukan. Kamu juga adalah alasan yang membuatku menjadi orang yang lebih baik. Setiap kali melihatmu, rasanya aku benar-benar ingin selalu berada di dekatmu. Tapi itu dulu. Ya, dulu sebelum kamu pergi meninggalkan kota ini. Aku tidak pernah berharap lebih karena nyatanya aku memang tak punya kesempatan. Bagaimana dengan sekarang? Kurasa perasaan itu mulai hilang. Aku belajar untuk menikmati hidup tanpamu. Dan aku berhasil. Aku mengirimkan e-mail ini agar kau tahu bahwa pernah ada seorang gadis bernama Sita yang menyukaimu. Semoga kamu bahagia di sana. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu. Sudah berulang kali aku membaca tulisan yang sudah hampir satu bulan ini hanya tersimpan sebagai draft e-mailku. Aku ingin mengirimkannya. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Bagaimana ini? Aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku tidak tahu alamatnya di Jakarta dan bahkan juga nomor teleponnya. Satu-satunya cara adalah dengan mengirim e-mail padanya. Aku menarik napas dalam. Kumantapkan hatiku. Ya, aku harus mengirimkannya. Aku hanya ingin dia tahu perasaan yang dulu pernah kurasakan padanya. Ah, tidak hanya dulu. Bahkan sekarang aku masih menyimpan secuil perasaanya itu untuknya. Kecewa? Tentu saja. Sedih? Bohong jika aku bilang tidak merasakannya. Seperti judul sebuah lagu, aku juga menangis semalam untuknya. To: shimy@yahooo.com From: ondimy@gmaiil.com Subject: Re: Hai… Aku nggak marah dengan perasaanmu itu. Wajar jika cewek suka dengan cowok. Lagipula, setiap orang mempunyai hak untuk menyukai orang lain. E-mail tersebut adalah jawaban yang aku peroleh dari Dion. Dan juga merupakan e-mail terakhir darinya. Hubunganku dengan Dion berakhir sampai di sini. — Aku mengakhiri kegiatan menulisku tepat pukul sebelas malam. Sudah dua hari ini aku disibukkan dengan kegiatanku menggali kembali kenanganku dengan Dion. Dan kini terciptalah sebuah kisah tentangku dan Dion. Seperti kataku, ini adalah kisah yang manis. Sebuah kisah cinta pertama yang benar-benar kurasakan. Sayang, hubunganku dengannya tak pernah membaik. Padahal sudah tujuh tahun berlalu. Aku benar-benar kehilangannya. Walaupun begitu, aku berterimakasih pada Dion. Dialah yang membuatku menjadi Sita yang sekarang —seorang Sita yang pantang menyerah dan bekerja keras untuk menggapai mimpi. Dia jugalah yang mengenalkanku pada ‘menulis’ —sebuah hobi yang kutekuni sampai sekarang. Dia adalah inspirasiku. Bagaimana dengan kalian? Siapa yang menjadi inspirasi kalian? Cerpen Karangan: Shimizudani

Minggu, 19 Oktober 2014

Awal berdirinya Pancasila

Awal Berdirinya Pancasila.
Pancasila sebagai dasar filsafat serta ideologi bangsa dan negara Indonesia, tidak semata-mata terbentuk begitu saja dengan hanya diciptakan oleh seseorang seperti yang terjadi pada ideologi-ideologi lain di dunia. Akan tetapi terbentuknya Pancasila mengalami proses yang sangat panjang dalam sejarah bangsa Indonesia. Sejak 400 tahun yang lalu pada masa kejayaan kutai dimana pada masa ini masayarakat kutai yang membuka zaman sejarah indonesia pertama kali, sudah terlihat menampilkan nilai-nilai sosial politik, dan ketuhanan dalam bentuk kerajaan.
Secara kausalitas Pancasila sebelum disyahkan menjadi dasar filsafat negara nilai-nilainya telah ada dan berasal dari bangsa Indonesia itu sendiri, seperti adat- istiadat, kebudayaan, dan nilai-nilai religius. Kemudian para pendiri negara mengangkat nilai-nilai tersebut kemudian dirumuskan secara musyawarah mufakat berdasarkan moral-moral yang luhur diantaranya dalam sidang BPUPKI yang pertama, sidang panitia sembilan yang kemudian melahirkan piagam jakarta yang memuat Pancasila yang pertama kali, kemudian dibahas lagi dalam sidang BPUPKI yang kedua. Setelah kemerdekaan Indonesia sebelum sidang PPKI Pancasila sebagai calon dasar filsafat negara dibahas serta disempurnakan lagi dan akhirnya pada tanggal 18 Agustus 1945 disyahkan oleh PPKI sebagai dasar filsafat Negara Republik Indonesia (Kaelan, 2008:103).
Pengetahuan yang lengkap tentang proses terjadinya Pancasila berdasarkan pada proses kausalitas, secara kausalitas asal mula pancasila dibedakan menjadi dua macam yaitu : asal mula langsung dan asal mula tidak langsung.
1. Asal Mula Langsung
Pengertian asal mula secara ilmiah filsafati di bedakan atas empat macam yaitu :
a) Asal mula bahan (kusa materialis)
Bangsa Indonesia adalah asal dari nilai-nilai Pancasila itu sendiri, sehingga pada hakikatnya nilai Pancasila merupakan unsur-unsur yang digali dari bangsa Indonesia yang bermula dari adat-istiadat kebudayaan serta nilai religius. Bisa disimpulkan bahwa asal bahan Pancasila adalah pada bangsa Indonesia yang terdapat dalam kepribadian dan pandangan hidup bangsa Indonesia.
b) Asal mula bentuk ( kausa formalis)
Asal mula bentuk atau bagai mana betuk Pancasila itu sebagaimana termuat dalam pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Dengan demikian maka asal mula bentuk Pancasila adalah Ir. Soekarno, Drs. Moh. Hatta serta anggota BPUPKI lainya yang merumuskan dan membahas Pancasila.
c) Asal mula karya (kausa effisien)
Asal mula yang menjadikan atau mengesahkan Pancasila dari calon yang akan menjadi dasar negara yang sah. Yaitu PPKI sebagai pembentuk negara dan telah mengesahkan Pancasila sebagai landasan dasar negara.
d) Asal mula tujuan ( Kausa finalis)
Pancasila dirumuskan dan di bahas oleh para pendiri negar bertujuan untuk dijaikan sebagai landasan dasar negara. Oleh karena itu Asal mula tujuan tersebuat adalah anggota BPUPKI beserta panitia sembilan.

Arti Pancasila

1. Isi arti pancasila yang abstrak
Rumusan dari sila-sila Pancasila itu sendiri menunjukkan adanya sifat-sifat umum universal dan abstrak, karena merupakan suatu nilai. Pancasila terdiri atas sederetan kata yang secara structural merupakan suatu fase (sederetan kata-kata) yang mengandung makna tertentu.
Untuk memahami makna yang terkandung dalam sila-sila pancasila maka terlebih dahulu perlu di analisis satuan frase(sederetan kata-kata) pada sila – sila pancasila tersebut. Berdasarkan analisis pada kata-kata ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan dan keadilan , secara semantic berhubungan makna “hal” yang berkaitan dengan tuhan, rakyat dan adil. Selain itu kata-kata tersebut mengandung makna abstrak. Jadi inti kata yang terkandung dalam sila-sila yaitu ketuhanan, kemanusiaan,persatuan,kerakyatan, dan keadilan, kesemuanya mengandung makna abstrak.
2. Isi arti pancasila yang umum universal
Kata-kata ketuhanan,kemanusian,persatuan, kerakyatan dan keadilan seluruhnya merupakan suatu inti frase pada setiap sila oleh subyek (S) dan di sebut sebagai term. Oleh karena fungsinya sebagai subyek maka kata -  kata itu bermakna dan bersifat menentukan dalam pengambilan keputusan. Oleh karena fungsinya sebagai term, maka kata-kata tersebut memiliki luas pengertian yang bersifat umum universal, yang artinya luas menunjukan seluruh lingkungan dan masing-masing bawahanya, tidak terkecuali. Jadi luas pengertian yang umum universal, menunjukan suatu luas pengertian yang seumum–umumnya, tidak terikat ruang, waktu, lingkungan, kelompok atau jumlah tertentu. Selain itu dalam ilmu logika di kenal juga luas pengertian yang umum kolektif, yaitu berarti umum dan terbatas pada suatu kelompok ,lingkungan,kumpulan, atau jumlah tertentu . Misalnya term manusia Indonesia , adalah mempunyai luas pengertian yang umum kolektif yaitu terbatas pada kolektifitas, atau kelompok manusia (Indonesia).
Berdasarkan analisis tersebut maka term-term sila-sila pancasila adalah bersifat abstrak, dan memiliki luas pengertian yang umum universal. Karena sifatnya yang abstrak ,umum dan universialisasi arti pancasila itu bersifat tetap dan tidak berubah. Hal ini berarti pancasila sebagai filsafat Negara Indonesia mempunyai kedudukan yang mutlak yang terlekat pada kelangsungan hidup Negara Indonesia secara material,karena karena semua aspek pelaksanaan dan penyelengaraan Negara di jabarkandari nilai-nilai pancasila. Adapun secara formal pancasila sebagai sumber dari segala sumber hukum termuat dalam pembukaan UUD 1945 yang kedudukannya sebagai tertib hukum yang tertinggi, maka pancasila sebagai hukum tidak bisa di ubah.
Pancasila sebagai dasar filsafat Negara yang mempunyai isi arti yang abstrak, umum dan universal maka secara logis bersifat tetap dan tidak berubah, karena sifatnya yang tidak terbatas pada ruang,waktu ,jumlah serta keadaan tertentu.
Isi arti pancasila yang abstrak umum universal adalah tetap tidak berubah dan dapat berlaku di mana saja,tidak hanya untuk bangsa dan negara indonesia, tetapi juga bagi bangsa-bangsa lain dengan ciri khusus tertentu,sehinga dari sifat abstrak umum universal dapat di susun arti pancasila umum kolektif sebagai pelaksanaan dalam kedudukanya dasar filsafat negara atau sebagai pedoman praktis dalam penyelengaraan Negara.
3. Isi pancasila yang deskriptif
Pengetahuan deskriptif yaitu suatu jenis pengetahuan yang memberikan suatu keterangan, penjelasan objektif. Kajian Pancasila secara deskriptif berkaitan dengan kajian sejarah perumusan Pancasila, nilai-nilai Pancasila serta kajian tentang kedudukan dan fungsinya.
Pancasila sebagai filsafat bangsa dan negara Indonesia mengandung makna bahwa dalam tiap aspek kehidupan kemanusiaan kemasyarakatan serta kenegaraan harus berdasarkan nilai-nilai Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan dan Keadilan. 
Adapun negara yang didirikan oleh manusia itu berdasarkan pada kodrat bahwa manusia sebagai warga dari negara sebagai persekutuan hidup adalah berkedudukan kodrat manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa (hakikat sila pertama). Negara yang merupakan persekutuan hidup manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa pada hakikatnya bertujuan untuk mewujudkan harkat dan martabat manusia sebagai makhluk yang berbudaya atau makhluk yang beradab (hakikat sila kedua). Untuk terwujudnya suatu negara sebagai organisasi hidup manusia maka harus membentuk persatuan ikatan hidup bersama sebagai suatu bangsa (hakikat sila ketiga). Terwujudnya persatuan dalam suatu negara akan melahirkan rakyat sebagai suatu bangsa yang hidup dalam suatu wilayah negara tertentu. Sehingga dalam hidup kenegaraan itu haruslah mendasarkan pada nilai bahwa rakyat merupakan asal-mula kekuasaan negara. Maka merupakan suatu keharusan bahwa negara harus bersifat demokratis hak serta kekuasaan negara. Suatu keharusan bahwa negara harus dijamin baik sebagai individu maupun secara bersama (hakikat sila keempat). Untuk mewujudkan tujuan negara sebagai tujuan bersama dari selurh warga negaranya maka dalam hidup kenegaraan harus mewujudkan jaminan perlindungan bagi seluruh warganya, sehingga untuk mewujudkan tujuan seluruh warganya harus dijamin berdasarkan suatu prinsip keadilan yang timbul dalam kehidupan bersama (kehidupan sosial) (hakikat sila kelima).
Nilai-nilai di ataslah yang merupakan nilai dasar bagi kehidupan kenegaraan, kebangsaan dan kemasyarakatan yang merupakan nilai dasar Pancasila. Secara kausalitas bahwa nilai-nilai Pancasila adalah bersifat objektif dan subjektif. Artinya essensi nilai-nilai Pancasila bersifat Universal yaitu Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan. Sehingga dimungkinkan dapat diterapkan pada Negara lain walaupun namanya bukan Pancasila.
4. Isi pancasila yang normatif
Pancasila merupakan perwujudan dari nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat yang ada di Indonesia. Nilai-nilai dasar pancasila secara normatif menjadi dasar, kerangka acuan, dan tolak ukur segenap aspek pembangunan nasional yang dijalankan di Indonesia. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila perlu dijabarkan dalam suatu sistem normatif, sebagaimana terkandung dalam Pembukaan UUD 1945. Hal ini sebagai konsekuensi atas pengakuan dan penerimaan bangsa Indonesia atas Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional. Hal ini sesuai dengan kenyataan objektif bahwa Pancasila adalah dasar negara Indonesia, sedangkan negara merupakan organisasi atau persekutuan hidup manusia maka tidak berlebihan apabila pancasila menjadi landasan dan tolok ukur penyelenggaraan bernegara  dalam berbagai bidang seperti ekonomi, pendidikan, hokum, pertahanan keamanan, social budaya, dll.
5. Isi pancasila yang umum kolektif
Isi arti Pancasila yang umum kolektif, yaitu isi arti Pancasila sebagai pedoman kolektif Negara dan bangsa Indonesia terutama dalam tertib hukum Indonesia. 
Sebagai sumber dari segala hukum atau sebagai sumber tertib hukum Indonesia maka  Setiap produk hukum harus bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan Pancasila. Pancasila tercantum dalam ketentuan tertinggi yaitu Pembukaan UUD 1945, kemudian dijelmakan atau dijabarkan lebih lanjut dalam pokok-pokok pikiran, yang meliputi suasana kebatinan dari UUD 1945, yang pada akhirnya dikongkritisasikan atau dijabarkan dari UUD1945, serta hukum positif lainnya.
Pancasila sebagai dasar filsafat negara, pandangan hidup bangsa serta idiologi bangsa dan negara, bukanlah hanya untuk sebuah rangkaian kata- kata yang indah namun semua itu harus kita wujudkan dan di aktualisasikan di dalam berbagai bidang dalam kehidupan bermasarakat, berbangsa dan bernegara.
6. Isi pancasila yang singular kongkrit
Sebagaimana dijelaskan di muka isi-arti Pancasila yang bersifat umum universal adalah merupakan prinsip-prinsip dasar bagi setiap pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara. Oleh karena itu isi-arti Pancasila sebagai dasar filsafat bangsa dan Negara Indonesia merupakan sumber segala nilai, norma, maupun sifat-sifat yang menyangkut segala hal dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara. Sebagai suatu dasar filsafat maka Pancasila bersifat abstrak, artinya tidak maujud, tidak kasat mata, dan tidak dapat ditangkap dengan indera manusia.
Namun demikian prinsip-prinsip yang bersifat universal tersebut perlu dilaksanakan, diwujudkan dan direalisasikan dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara. Oleh karena itu dalam suatu pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara dan dalam hal ini adalah suatu Negara Indonesia memerlukan suatu norma-norma atau ukuran-ukuran yang berlaku secara kolektif, dan oleh karena itu isi-arti pancasila dan pengertian ini adalah bersifat umum kolektif yaitu merupakan pedoman umum bagi seluruh Bangsa Indonesia dan Negara Indonesia.
Namun demikian pedoman umum tersebut perlu dijabarkan dan dilaksanakan dalam praktek penyelenggaraan Negara secara nyata, yaitu dalam lingkungan kehidupan nyata. Isi arti Pancasila yang khusus konkrit ini merupakan pelaksanaan Pancasila dasar filsafat Negara yang diterapkan dalam kehidupan nyata, antara lain pada bidang sosial, budaya, ekonomi, politik, kebudayaan, organisasi, administrasi, partai politik maupun golongan karya, pertahanan dan semua aspek yang berkaitan dengan pembangunan nasional termasuk kebijaksanaan dalam maupun luar negeri. Pelaksanaan Pancasila yang konkrit ini sangat bersifat dinamis, yaitu sesuai dengan perkembangan zaman, keadaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta peradaban manusia. Karena sifatnya yang khusus dan kongkrit serta dinamis maka setiap pelaksaan dan kebijaksanaan bisa berbeda, namun tetap dalam batas norma isi-arti Pancasila yang umum universal dan umum kolektif (yaitu sebagaimana terumuskan dalam pedoman-pedoman umum secara kolektif terutama sebagaimana tercantum dalam rumusan pokok hukum positif Indonesia yaitu UUD 1945 dan Ketetapan MPR).
Beberapa contoh konkrit pelaksanaan isi-arti Pancasila yang khusus singular dalam pelaksanaan dan penyelenggaraan Negara adalah sbb :
a. Bidang politik,
Dalam kehidupan politik, terlihat kesan kuat bahwa telah timbul apa yang pernah disebut dan dikhawatirkan oleh dr. Mohammad Hatta sebagai suatu ultra demokrasi. Walaupun lembaga legislatif serta lembaga eksekutif telah dipilih secara demokratis, namun demonstrasi ke jalan-jalan bukan saja tidak berhenti, tetapi sudah menjadi suatu hal yang terjadi secara rutin. Tiada hari tanpa demonstrasi. Partai-partai politik yang seyogyanya berfungsi sebagai lembaga demokrasi yang mengagregasi serta mengartikulasikan aspirasi dan kepentingan rakyat serta sebagai wahana untuk seleksi kepemimpinan ditengarai hanya asyik dengan dirinya sendiri dan telah mulai kehilangan kepercayaan dari rakyat.
Dalam contoh lain, seperti :
1.Dengan adanya partai-partai politik yang berbeda-beda namun memiliki asas yang sama yaitu asas Pancasila. Setiap partai politik tersebut memiliki perbedaan-perbedaan, sifat organisasinya, anggaran rumah tangganya, dan terutama perbedaan dalam kebijaksanaan programnya.
2.Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 1985 tentang Pemilihan Umum anggota-anggota badan Permusyawaratan/Perwakilan Rakyat yang telah tiga kali diubah, yaitu dengan Undang Undang Nomor 4 Tahun 1975, Undang Undang Nomor 3 Tahun 1985, serta untuk menggantikan Peraturan Pemerintahan Nomor 41 Tahun 1980 tentang Pelaksanaan Undang Undang Pemilihan Umum.
b.Bidang ekonomi, seperti :
1.Ekonomi Indonesia yang “sosialistik” sampai 1966 berubah menjadi “kapitalistik” bersamaan dengan berakhirnya Orde Lama (1959-1966). Selama Orde Baru (1966-1998) sistem ekonomi dinyatakan didasarkan pada Pancasila dan kekeluargaan yang mengacu pasal 33 UUD 1945, tetapi dalam praktek meninggalkan ajaran moral, tidak demokratis, dan tidak adil. Ketidakadilan ekonomi dan sosial sebagai akibat dari penyimpangan/penyelewengan Pancasila dan asas kekeluargaan telah mengakibatkan ketimpangan ekonomi dan kesenjangan sosial yang tajam yang selanjutnya menjadi salah satu sumber utama krisis moneter tahun 1997.Aturan main sistem ekonomi Pancasila yang lebih ditekankan pada sila ke-4 Kerakyatan (yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan) menjadi slogan baru yang diperjuangkan sejak reformasi. Melalui gerakan reformasi banyak kalangan berharap hukum dan moral dapat dijadikan landasan pikir dan landasan kerja. Sistem ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang memihak pada dan melindungi kepentingan ekonomi
rakyat melalui upaya-upaya dan program-program pemberdayaan ekonomi rakyat. Sistem ekonomi kerakyatan adalah sub-sistem dari sistem ekonomi Pancasila, yang diharapkan mampu meredam ekses kehidupan ekonomi yang liberal.
2.Untuk menyehatkan perekonomian nasional maka pemerintah mengeluarkan kebijaksanaan paket Oktober (Pakto), Kebijaksanaan devaluasi, peningkatan ekspor non migas dan kebijaksanaan- kebijaksanaan di bidang moneter dan perbankan yang lainnya.
3.Kebijaksanaan menaikkan harga BBM, kerjasama ekonomi dengan Negara-negara lain dan sebagainya. Kesemuanya itu tetap berpedoman pada perekonomian yang berdasarkan Pancasila, sebagaimana diatur secara kolektif dalam Pasal 33 UUD 1945).
c.Bidang Kebudayaan, misalnya :
1.Pemerintahan mengembangkan kebudayaan nasional, namun demikian kebudayaan daerah harus tetap dijaga dan dilestarikannya.
2.Tidak menutup kemungkinan masuknya kebudayaan asing namun harus tetap berpedoman pada budaya Pancasila sebagai kepribadian bangsa dasar filsafat Negara Indonesia.
d.Bidang Kehidupan Umat Beragama, misalnya :
1.Setiap pemeluk agama beribadah dan menggunakan ajaran-ajaran agama sesuai dengan ajaran agama masing-masing.
2.Diwujudkannya Undang-undang Perkawinan, yang berdasarkan ajaran agama masing-masing, dan lain sebagainya.

PANCASILA BERSIFAT HIRARKIS DAN BERBENTUK PIRAMIDAL

PANCASILA BERSIFAT HIRARKIS DAN BERBENTUK PIRAMIDAL

oleh athoullah mondir
        Pancasila merupakan suatu ideologi yang dianut oleh negara Indonesia sebagai pandangan dan pedoman bagi bangsa Indonesia. Pancasila ini telah terbentuk sejak Indonesia merdeka yang disusun oleh presiden pertama sekaligus proklamator negara Indonesia yaitu almarhum Ir. Soekarno.
            Pancasila sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu “panca” yang dalam bahasa Indonesia bermakna 5 (lima) dan “syila” yang bermakna batu sendi / alas / dasar, dari dua kata itulah pancasila tersusun. Pancasila memiliki arti lima dasar yaitu meliputi :
1.    Ketuhanan Yang Maha Esa
2.    Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.    Persatuan Indonesia
4.    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
5.    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Setiap sila yang berasal dari pancasila ini memiliki arti sendiri pada setiap silanya yaitu sila ke-1 memiliki arti bahwa setiap rakyat Indonesia wajib beragama karena sejak dahulu Indonesia telah mengenal agama dan dalam agama pasti diajarkan hal-hal baik yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara. Sila ke-2 memiliki arti setiap rakyat Indonesia wajib mempunyai adab atau bisa juga diartikan sebagai sifat menghargai dalam berbagai hal antar sesama makhluk hidup. Sila ke-3 memiliki arti setiap rakyat Indonesia wajib mengutamakan persatuan dan kesatuan Indonesia. Sila ke-4 memiliki arti setiap suatu permasalahan yang dialami bangsa maupun negara Indonesia wajib diselesaikan dengan kepala dingin menggunakan cara bermusyawarah yang menghasilkan solusi yang bisa menguntungkan pihak-pihak yang terlibat dan tidak menggunakan cara kekerasan. Sila ke-5 memiliki arti setiap rakyat Indonesia berhak mendapatkan perlakuan yang adil dan seadil-adilnya.
Hal yang dimaksud dengan pancasila bersifat hirarkis dan berbentuk piramidal adalah dalam pancasila ini berarti memiliki hubungan antara kelompok sila yang ada dalam pancasila dan bersifat erat. Hirarkis sendiri memiliki arti yaitu pengelompokan / penggolongan.
Pancasila yang terdiri dari 5 sila itu saling berkaitan yang tak dapat dipisahkan:
     Sila pertama menjelaskan bahwa pada sila pertama itu meliputi dan menjamin isi sila 2, 3, 4, dan 5, artinya dalam segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan dan penyelenggaraan negara harus dijiwai nilai-nilai ketuhanan Yang Maha Esa.
     Sila kedua tertulis kemanusiaan yang adil dan beradab yang diliputi sila ke-1 dan isinya meliputi sila 3, 4, dan 5, dalam sila ini terkandung makna bahwa sangat menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia sebagai makhluk tuhan yang beradab, maka segala hal yang berkaitan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara harus mencerminkan bahwa negara ini mempunyai peraturan yang menjunung tinggi harkat dan martabat manusia.
     Sila ketiga tertulis persatuan Indonesia yang diliputi dan dijiwai sila 1, 2 yang meliputi dan menjiwai isi dari sila 4, dan 5, sila ini mempunyai makna manusia sebagai makhluk sosial wajib mengutamakan persatuan negara Indonesia yang disetiap daerah memiliki kebudayaan-kebudayaan maupun beragama yang berbeda.
     Sila keempat diliputi dan dijiwai sila 1, 2, 3 yang  meliputi dan menjiwai isi dari sila kelima. Sila ini menjelaskan bahwa negara Indonesia ini ada karena rakyat maka dari itu rakyat berhak mengatur kemana jalannya negara ini.

     Sila kelima yang bertuliskan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia itu diliputi dan dijiwai oleh isi dari sila 1, 2, 3, dan 4. Sila ini mengandung makna yang harus mengutamakan keadilan bersosialisasi bagi rakyat Indonesia ini sendiri tanpa memandang perbedaan-perbedaan yang ada.

Rabu, 08 Oktober 2014

Makrab 2014


Hehehe


Smile

Senyummu mengobati luka dihatiku
Tawamu membuatku tersenyum
Tatapanmu membuatku salah tingkah
dalam keadaan itu
ku mampu menantang kejam nya hidup..
Hati kecil ku berkata aku tlah jatuh cinta...
Tak ingin ku berpisah dari mu..
Di dekatmu aku merasa damai..
Ingin aku katakan aku sayang padamu..
tapi aku tak mampu untuk katakan itu semua
Cukuplah bagiku untuk menjadi teman saja
namun aku tetap tak bisa membohongi hati kecil ku,
Bahwa aku sayang pada mu....
Disaat aku menyiapkan hati untuk berkata kau akan pergi
Apakah aku tak cukup berarti untuk menjadi pertimbangan mu ??

O.o

Cieelahhhhh ,, Eaaaakkkk ({})